Sabtu, 20 Februari 2010

Kebahagiaan Sebenar Ialah Hidup Dalam Iman

Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka ini, selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, kemurkaan, dan kehinaan.

Dan sesiapa berpaling ingkar dari ingatan dan petunjuk-Ku, maka sesungguhnya baginya adalah hidup yang sempit”

(QS. Thaha: 124)

Tidak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersihkannya, menyucikannya, membuatnya tenang dan menghalau kebimbangan darinya selain keimanan yang benar kepada Allah s.w.t., Tuhan alam semesta. Pendek kata, kehidupan akan terasa hambar tanpa iman.

Menurut pendapat golongan pembangkang Allah yang sama sekali tidak beriman, cara terbaik untuk menenangkan jiwa adalah dengan bunuh diri. Menurut mereka, dengan bunuh diri orang akan dijauhkan dari segala tekanan, kegelapan dan bencana dalam hidupnya. Betapa malangnya hidup yang miskin iman. Dan betapa pedihnya seksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah di akhirat kelak.

"Dan Kami palingkan hati mereka dan penglihatan mereka sepertimana mereka tidak (mahu) beriman kepada (ayat-ayat Kami ketika datang kepada mereka) pada awal mulanya, dan Kami biarkan mereka meraba-raba di dalam kesesatannya dengan bingung"

(QS. Al-An'am: 110)

Kini sudah saatnya dunia menerima dengan tulus ikhlas dan beriman dengan sesungguhnya bahawa "tidak ada Tuhan selain Allah". Bagaimanapun, pengalaman dan ujian manusia sepanjang sejarah kehidupan dunia ini dari abad ke abad telah membuktikan banyak hal; menyedarkan akal bahawa berhala-berhala itu tahyul belaka, kekafiran itu punca malapetaka, pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya, dan Allah benar-benar Si Penguasa kerajaan bumi dan langit, segala puji bagi Allah dan Dia sungguh-sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Seberapa besar, kuat atau lemah, hangat atau sejuk iman anda, maka setakat itu pula kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian dan ketenangan jiwa anda.

“Sesiapa yang beramal soleh, dari laki-laki ataupun perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan memberi pahala yang lebih dari apa yang telah mereka kerjakan”

(QS. An-Nahl: 97)

Maksud kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dalam ayat ini adalah ketenangan jiwa mereka disebabkan janji baik Tuhan mereka, keteguhan hati mereka dalam mencintai Zat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam menerima takdir. Dan itu semua adalah kerana mereka benar-benar yakin dan ikhlas menerima bahawa Allah adalah Tuhan mereka, Islam agama mereka dan Muhammad adalah nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mereka.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan